MAKALAH PETERNAKAN
“Penilaian dan Pengukuran Pemeliharaan Sapi”
oleh
:
Zildjian
Aldyth Pratama 23010118130210
PROGRAM
STUDI S1 PETERNAKAN
FAKULTAS
PETERNAKAN DAN PERTANIAN
UNIVERSITAS
DIPONEGORO
SEMARANG
2019
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Sapi
perah merupakan golongan hewan ternak ruminansia yang dapat mendukung pemenuhan
kebutuhan akan bahan pangan bergizi tinggi yaitu susu. Permintaan susu
meningkat seiring meningkatnya populasi manusia, akan tetapi peningkatan
permintaan susu ini kurang diimbangi dengan peningkatan produksi susu sapi
perah itu sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan susu secara nasional, perkembangan
sapi perah perlu mendapat pembinaan yang lebih terencana sehingga hasilnya akan
meningkat dari tahun ke tahun.
Pada
dasarnya penilaian dilakukan dengan dua sistem ialah secara visual (subyektif)
disini amat diperlukan bakat dan seni
dari masing-masing penilai atau juri,
bakat disertai dengan pengalaman akan dapt menghasilkan nilai yang mendekati
keadaan yang sebenarnya. Dalam tahap penilaian ini ternak harus dinilai dari
samping ,belakang,depan,saat berjalan dan perabaan dimana nilainya
masing-masing dalam kartu nilai (score card ) yang telah ditetapan. Sistem
kedua adalah penilaian secara obyektif
yaitu nilai statistic vital antara lain dengan pengukuran linier antara
lain berat badan, umur,lingkaran,panjang,lebar dan tinggi masing-masing ternak tersebut
1.2 Tujuan
Tujuan
dalam praktikum ini adalah untuk mengetahui ukuran-ukuran dimensi tubuh yang
terkait dalam produktifitas ternak potong sapi bali.
1.3 Manfaat
Dengan mengetahui ukuran-ukuran
tubuh pada ternak kita dapat mengidentifikasi bobot badan pada ternak tersebut.
BAB II
METODE
2.1 Cara Mendekati
dan Menggiring serta Menghitung Gigi Seri Ternak
Sebelum kita
melakukan tilik terhadap ternak, maka sewajarnya kita harus mengetahui
bagaimana cara mendeketai dan menggiring ternak dengan baik dan benar.
Berikut adalah cara mendekati dan menggiring
ternak dengan baik dan benar :
a. Datangi
ternak dari arah depan
b. Sikap
tidak boleh ragu-ragu, namun tetap waspada
c. Diberikan
isyrat (tanda), tepukan tangan, siulan dengan maksud agar ternak menoleh kearah
kita.
d. Mendekat
dengan membawa bahan makanan
e. Bersama-sama
dengan pemilik
a.
.Buka ikatan tali pengikat hidung (untuk sapi yang sudah ditelusuk, handling
lebih mudah)
b. Tarik tali
pengikat hidung sapi dan arahkan ke kandang jepit (sapi akan otomatis mengikuti
dan masuk kekandang jepit)
c.
Ikat tali pengikat hidung sapi di bagian depan (pagar depan) dari kandang jepit
a.
Tali pengikat hidung ditarik ke atas, sgsr mulut agak terangkat. Tariklah
bibbir bagian bawah kebawah sehingga gigi seri nya tampak.
b.
Dapat juga minta bantuan pada pemilik ternak untuk membuka mutul
ternaknya dan mahasiswa segera memperhatikan jumlah gigi serinya.
1.
Gigi susu umur 1 tahun
2.
I1 umur 1,5 – 2 tahun
3.
I2 umur 2 – 3 tahun
4.
I3 umur 3 – 3,5 tahun
5.
I4 umur 4 tahun
Pertumbuhan
merupakan suatu proses yang terjadi pada setiap mahluk hidup dan dapat
dimanifestasikan sebagai tambahan berat organ atau jaringan tubuh seperti otot,
tulang dan lemak, urutan pertumbuhan jeringan tubuh dimulai dari jeringan
saraf, kemudian tulang, otot dan terakhir lemak. Menurut (Dimension 2010)
menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi laju pertumbuhan hewan antara lain
spesies, jenis kelamin, umur dan jumlah makanan yang dikonsumsi
Sapi
lokal mempunyai kemampuan reproduktivitas lebih baik dibanding sapi
persilangan. Menurut (Nining 2018)
menyatakan bahwa ternak lokal lebih mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan
dan kondisi manajemen pemeliharaan di Indonesia yang sebagian besar dipelihara
di peternakan rakyat.
2.2 Pengukuran
Dimensi serta Sistem Penilaian Tubuh Tenak
Menurut (Zainudin, Ihsan, and Suyadi 2013)
pengukuran ukuran tubuh ternak sapi selain dipergunakan untuk menduga bobot
badan seekor ternak sapi , juga digunakan sebagai parameter teknis penentuan
sapi bibit dan menentukan umur sapi tersebut.
Berdasarkan ketentuan kontes dan
pameran ternak nasional, yang termasuk dalam “statistik vital” pada ternak sapi
meliputi ukuran tinggi gumba, panjang badan, lingkar dada, lebar dada, dalam
dada, lebar punggung, lebar pinggul, panjang pinggul, panjang kepala, lebar
kepala, berat badan, dan umur.
Menurut (Anggraeni and Mariana 2016)
menyatakan bahwa kuran “statistik vital” dari organ tertentu jika dikaitkan
dengan umur akan menggambarkan keharmonisan perkembangan tubuh dan
produktivitas (pertumbuhan). Karena itu, pertumbuhan organ-organ tertentu berkorelasi
dengan berat badan.
Pengukuran dimensi dimaksudkan
pelaksanaan dengan mengukur dimensi tubuh luar ternak atau ukuran statistic
meliputi :
A.
Tinggi Pundak, tinggi
gumba ialah jarak tegak lurus dari titik tertinggi pundak sampai ketanah atau
lantai, alat yang digunakan adalah tongkat ukur.
B.
Tinggi punggung ialah
jarak tegak lurus dari taju duri ruas tulang punggung atau processus spinosus
vertebrae thoracaleyang terakhir sampai ke tanah . Titik ini mudah didapat
dengan menarik garis tegak lurus tepat diatas pangkal tulang rusuk terakhir.
C.
Tinggi pinggang ialahjarak tegak lurus dari titik antara
tulang lumbar vertebrae 3-4, tepat melalui legok lapar sampai ke tanah ( lantai
).
D.
Tinggi pinggul ialah
jarak tegak lurus dari titik tertinggi pada os sacrum pertama sampai ke tanah.
E.
Tinggi kemudi, jarak
tegak lurus dari os sacrum ( sacrale ), tepat melalui tengah- tengah tulang
ilium sampai ke tanah.
F.
Tinggi pangkal ekor
ialah jarak tegak lurus dari titik pangkal ekor, sampai ke tanah.
G.
Alat yang dipakai untuk
mengukur tinggi bagian- bagian tubuh diatas adalah tongkat ukur.
A. Panjang
kepala jarak dari puncak kepala sampai ujung moncong.
B. Panjang
badan ; diukur secara lurus dengan tongkat ukur dari siku ( humerus ) sampai
benjolan tulang tapis ( tuber ischii ).
C. Panjang
menyilang badan, jarak yang diukur antara
tulang benjolan bahu sampai tulang duduk disisi lainnya. Diukur dengan
memakai pita ukur.
D. Panjang
kemudi; panjang kelangkang; panjang pelvis, jarak antara tuber coxae dan tuber
ischii pada sisi sama.
E. Panjang
telinga, jarak antara ujung telinga sampai pangkal telinga bagian dalam. Dapat
diukur dengan penggaris atau pita ukur.
F. Panjnag
tanduk, diukur dengan pita ukur. Jarak antara ujung tanduk sampai kedasar
tanduk.
G. Selain
yang telah disebutkan alat- alatnya, dapat juga digunakan tongkat ukur, jangka
sorong atau caliper.
A. Lebar
dada, jarak terbesar pada yang diukur tepat dibelakang antara kedua benjolan
siku luar, yaitu tepat pada tempat mengukur lingkar dada.
B. Lebar
pinggang, jarak diukur antara taju horizontal yaitu pada tulang lumbale 3-4.
C. Lebar
pinggul, jarak antara tuber coxae pada sisi kiri dan kanan.Panjang kemudi;
panjang kelangkang; panjang pelvis, jarak antara tuber coxae dan tuber ischii
pada sisi sama.
D. Lebar
kemudi, jarak terlebar antara sisi luar kiri dan kanan tulnag pelbis atau os
illium melalui os sacrum 3-4.
E. Lebar
pantat, lebar tulang tapis atau lebar tulang duduk, jarak antara kedua benjolan
tuber ischii kiri dan kanan.
F. Lebar
kepala, jarak terbesar antara kedua lengkungan tulang mata sebelah atas luar
kiri dan kanan.
Dalam
dada. Jarak titik tertinggi pundak ( gumba ) sampai tulang dada dan diukur
melalui serta merta dibelakang siku.
A. Lingkar
perut . lingkaran yang diukur di daerah perut.yang memliki lingkaran besar,
melalui serta merta di belakang tulang rusuk terakhir dan tegak lurus dengan
sumbu tubuh.
B. Lingkar
perut . lingkaran yang diukur di daerah perut.yang memliki lingkaran besar,
melalui serta merta di belakang tulang rusuk terakhir dan tegak lurus dengan
sumbu tubuh.
C. Lingkar
flank. Lingkaran yang diukur di daerah flank, melalui tuber coxae serta merta
depan ambing atau skrotum..
D. Lingkar
pantat, lingkar round. Lingkaran yang
diukur pada pantat, dari tulang patella kiri sampai tulang patella kanan,
kearah belakang serta membentuk penampang sejajar dengan lantai.Lebar pantat,
lebar tulang tapis atau lebar tulang duduk, jarak antara kedua benjolan tuber
ischii kiri dan kanan.
E. Lingkar
tulang pipa. Lingkaran yang diukur ditengah- tengah tulang pipa, yaitu pada
bagian yang terkecil dan terbulat.
F. Lingkar
skrotum. Lingkaran yang diukur pada bagian terbesar skrotum; terlebih dulu skrotum
telah ditarik kearah bawah sehingga terdapat kedua testesnya.
G. Lingkar
tubuh.
H. Lingkar
mulut, lingkar moncong. Lingkaran yang diukur tepat pada akhir sudut bibir,
ialah pada batas antara kepala dan moncong.
Uji
performans merupakan salah satu metode uji pada ternak untuk mengetahui sejauh
mana tingkat performans atau penampilan sapi untuk memperoleh penampilan
terbaik yang kemudian diturunkan pada anaknya saat uji lanjutan ( uji Progeny).
Menurut (Patmawati et al. 2013)
menyatakan bahwa Metode pengujian yang dilaksanakan adalah memilih ternak bibit
berdasarkan sifat kualitatif dan kuantitatif yang meliputi (1) pengukuran yaitu
panjang badan,tinggi gumba, dan lingkar dada, (2) penimbangan yaitu berat
badan, berat lahir, berat sapih (205 hari), berat setahun, dan berat 2 tahun,
(3) pengamatan yaitu warna rambut, bentuk rangka, bentuk kepala, bentuk kaki,
bentuk kuku, bentuk skrotum, dan kelainan yang lain seperti ekor panjut,
cundang, dan injin.
A.
Cara Visual (Subyektif)
Suksesnya sistem ini amat ditentukan
oleh bakat dan seni para juri. Bakat disertai dengan pengalaman akan dapat
menghasilkan nilai yang mendekati keadaan yang sebenarnya atau dengan kata lain
akan terjadi penyimpangan yang amat kecil atau bahkan tidak ada. Menurut (Azzahra, Setiatin, and Samsudewa 2016)
menyatakan bahwa bagian yang dinilai pada sistem ini antara lain : keadaan atau
penampilan umum, bentuk tubuh, ciri-ciri khas ternak, kapasitas tubuh, keadaan
alat-alat reproduksi, keadaan ambing serta sikap berjalan.
Karakterisasi ukuran-ukuran tubuh
dapat digunakan untuk mengukur jarak genetik, merupakan metode pengukuran yang
murah dan sederhana. Menurut (N. Utomo et al. 2010)
menyatakan bahwa peubah yang diukur adalah karakteristik fenotipik yang
berkaitan dengan sifat kuantitatif. Sebanyak 8 sifat kuantitatif yang diukur,
yaitu: lingkar dada (cm), dalam dada (cm), lebar dada (cm), tinggi pundak (cm),
tinggi pinggul (cm), lebar pinggul (cm), panjang badan (cm), dan bobot badan
(kg).
B. Cara Pengukuran (Obyektif)
Sistem ini didasarkan dengan
pengukuran ststistik vital ialah ukuran-ukuran tubuh luar atau ukuran linier.
Menurut (Anggraeni and Mariana 2016)
menyatakan bahwa dimensi yang diukur antara lain : panjang lebar, tinggi dalam
dan lingkaran misalnya panjang badan (cm), lebar dada (cm), tinggi gumba (cm),
dalam dada (cm) dan lingkar dada (cm) dan bila perlu ditambah dengan berat
badan (kg) dan umur (tahun).
Bobot badan memegang peranan penting
dalam pola pemeliharaan yang baik, selain untuk menentukan kebutuhan nutrisi,
jumlah pemberian pakan, jumlah dosis obat, bobot badan juga dapat digunakan
untuk menentukan nilai jual ternak tersebut. Menurut (Ramli et al. 2016)
menyatakan bahwa ukuran-ukuran tubuh ternak dapat digunakan untuk menduga bobot
badan. Salah satu metode praktis adalah dengan menggunakan lingkar dada.
terdapat beberapa rumus penduga bobot badan ternak menggunakan lingkar dada
yaitu Schoorl, Winter, dan Denmark. Rumus-rumus tersebut dapat digunakan untuk
sapi, kambing, domba, babi dan kerbau.
C. Kartu Nilai Skor (NS)
Pengukuran pada sapi menggunakan penilaian BCS dimana BCS untuk
mengukur kondisi tubuh sapi. Hal ini sesuai dengan (Takdir, Haryono, and Ishak 2017)
menyatakan bahwa untuk penilaian visual ini perlu dipersiapkan kartu untuk
masing-masing ternak (sapi) yang akan dinilai, dimana dalam kartu telah
dipersiapkan : jenis ternak, nomor ternak, nama-nama bagian tubuh, nilai
maksimal, nilai bobot, nilai yang diperoleh dan nilai akhir.
Ada tiga jenis kartu tergantung tujuannya
antara lain :
1. kartu untuk pejantan,
2. kartu untuk induk dan
3.
kartu untuk bakalan atau hasil penggemukan
Indikator BCS sangat penting untuk
mengevaluasi pengelolaan dan dapat digunakan sebagai alat untuk mengoptimasikan
produksi, mengevaluasi kesehatan dan status nutrisi. Menurut (Sodiq and Budiono 2012)
menyatakan bahwa BCS juga berkorelasi dengan efisiensi rebreeding untuk
optimalisasi produksi, evaluasi kesehatan dan juga mengevaluasi status nutrisi.
Kondisi BCS sapi berkisar dari 3 sampai 6 (skor maksimal 9) dengan modus 4
(sapi Peranakan Ongole dan Sumba Ongole) dan 5 (untuk sapi Persilangan Simental
dan Charolois).
BAB III
KESIMPULAN
Penilaian dan pengukuran merupakan
hal yang sangat penting dan vital dalam pemilihan ternak, hal ini dikarenakan
untuk memilih ternak dengan kualitas baik dan unggul perlu dilakukan penilaian
dan pengukuran untuk menyeleksi ternak dari berbagai aspek yang bias diukur.
Penilaian dan pengukuran meliputi cara visual, cara pengukuran dan kartu nilai
skor. Kegiaatan handling juga perlu dilakukan agar ternak tetap tenang dan
memudahkan proses penilaian dan pengukuran.
DAFTAR PUSTAKA
Anggraeni, Anneke, and Elmy Mariana. 2016. “Evaluasi
Aspek Teknis Pemeliharaan Sapi Perah Menuju Good Dairy Farming Practices Pada
Peternakan Sapi Perah Rakyat Pondok Ranggon.” Jurnal Agripet 16 (2): 90.
Azzahra, F.Y., E.T. Setiatin, and D. Samsudewa. 2016.
“Evaluasi Motilitas Dan Persentase Hidup Semen Segar Sapi PO Kebumen Pejantan
Muda.” Jurnal Sain Peternakan Indonesia 11 (2): 99–107.
https://doi.org/10.31186/jspi.id.11.2.99-107.
Dimension, Circular Body. 2010. “Pertumbuhan Alometri Dimensi
Panjang Dan Lingkar Tubuh Sapi Bali Jantan.” Jurnal Veteriner 11 (1):
46–51.
N. Utomo, Bambang, Ronny Rachman Noor, Cece Sumantri, Iman
Supriatna, and Edie Gunardi. 2010. “Keragaman Morfometrik Sapi Katingan Di
Kalimantan Tengah” 15 (3): 220–30.
Nining, dan H. 2018. “Reproduction Status and Potential of
Sonok Cattle in Pamekasan District.” Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu 6
(3): 147–54.
Patmawati, Ni Wayan, Ni Nyoman Trinayani, Mahmud Siswanto, I
Nengah Wandia, and I Ketut Puja. 2013. “Seleksi Awal Pejantan Sapi Bali
Berbasis Uji Performans Eary Selection of Bali Cattle Stud Based on Performance
Test” 1 (1): 29–33.
Ramli, Mauridatun, Tongku Nizwan Siregar, Cut Nila Thasmi,
Dasrul, Sri Wahyuni, and Arman Sayuti. 2016. “Relation between Estrous
Intensity and Estradiol Concentration on Local Cattle during Insemination.” Jurnal
Medika Veterinaria 10 (1): 27–30.
Sodiq, Akhmad, and Machfudin Budiono. 2012. “Produktivitas
Sapi Potong Pada Kelompok Tani Ternak Di Pedesaan.” Jurnal Agripet 12
(1): 28.
Takdir, M, P Haryono, and ABL Ishak. 2017. “Kinerja
Reproduksi Sapi Betina Dan Performa Pedet Pada Usaha Budi Daya Sapi Potong Di
Kabupaten Sigi,” 78–85. https://doi.org/10.14334/pros.semnas.tpv-2017-p.78-85.
Zainudin, M, M Nur Ihsan, and Suyadi. 2013. “Efisiensi
Reproduksi Sapi Perah PFH Pada Berbagai Umur Di CV. Milkindo Berka Abadi Desa
Tegalsari Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang.” Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan
24 (3): 32–37.
LAMPIRAN
Link
Cloud Storage (Google Drive)