Minggu, 26 April 2020

MAKALAH PETERNAKAN “Penilaian dan Pengukuran Pemeliharaan Sapi”

MAKALAH PETERNAKAN
 “Penilaian dan Pengukuran Pemeliharaan Sapi”







                                                                                oleh :
Zildjian Aldyth Pratama                         23010118130210







PROGRAM STUDI S1 PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2019





DAFTAR ISI















BAB I

PENDAHULUAN


1.1.      Latar Belakang

            Sapi perah merupakan golongan hewan ternak ruminansia yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan akan bahan pangan bergizi tinggi yaitu susu. Permintaan susu meningkat seiring meningkatnya populasi manusia, akan tetapi peningkatan permintaan susu ini kurang diimbangi dengan peningkatan produksi susu sapi perah itu sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan susu secara nasional, perkembangan sapi perah perlu mendapat pembinaan yang lebih terencana sehingga hasilnya akan meningkat dari tahun ke tahun.
            Pada dasarnya penilaian dilakukan dengan dua sistem ialah secara visual (subyektif) disini  amat diperlukan bakat dan seni dari masing-masing  penilai atau juri, bakat disertai dengan pengalaman akan dapt menghasilkan nilai yang mendekati keadaan yang sebenarnya. Dalam tahap penilaian ini ternak harus dinilai dari samping ,belakang,depan,saat berjalan dan perabaan dimana nilainya masing-masing dalam kartu nilai (score card ) yang telah ditetapan. Sistem kedua adalah penilaian secara obyektif  yaitu nilai statistic vital antara lain dengan pengukuran linier antara lain berat badan, umur,lingkaran,panjang,lebar dan tinggi  masing-masing ternak tersebut

1.2       Tujuan

            Tujuan dalam praktikum ini adalah untuk mengetahui ukuran-ukuran dimensi tubuh yang terkait dalam produktifitas ternak potong sapi bali.

1.3       Manfaat

            Dengan mengetahui ukuran-ukuran tubuh pada ternak kita dapat mengidentifikasi bobot badan pada ternak tersebut.















BAB II

METODE


2.1       Cara Mendekati dan Menggiring serta Menghitung Gigi Seri Ternak

            Sebelum kita melakukan tilik terhadap ternak, maka sewajarnya kita harus mengetahui bagaimana cara mendeketai dan menggiring ternak dengan baik dan benar.
             Berikut adalah cara mendekati dan menggiring ternak dengan baik dan benar :
*      Cara Mendekati Ternak :

a.       Datangi ternak dari arah depan
b.      Sikap tidak boleh ragu-ragu, namun tetap waspada
c.       Diberikan isyrat (tanda), tepukan tangan, siulan dengan maksud agar ternak menoleh kearah kita.
d.      Mendekat dengan membawa bahan makanan
e.       Bersama-sama dengan pemilik

*      Cara Menggiring Ternak :
      
a. .Buka ikatan tali pengikat hidung (untuk sapi yang sudah ditelusuk, handling lebih mudah)
b. Tarik tali pengikat hidung sapi dan arahkan ke kandang jepit (sapi akan otomatis mengikuti dan masuk kekandang jepit)
c. Ikat tali pengikat hidung sapi di bagian depan (pagar depan) dari kandang jepit

*      Cara Menghitung Gigi Seri Ternak

a.       Tali pengikat hidung ditarik ke atas, sgsr mulut agak terangkat. Tariklah bibbir bagian bawah kebawah sehingga gigi seri nya tampak.
b.      Dapat juga minta bantuan pada pemilik ternak untuk membuka mutul ternaknya dan mahasiswa segera memperhatikan jumlah gigi serinya.
1.      Gigi susu umur 1 tahun
2.      I1 umur 1,5 – 2 tahun
3.      I2 umur 2 – 3 tahun
4.      I3 umur 3 – 3,5 tahun
5.      I4 umur 4 tahun
Pertumbuhan merupakan suatu proses yang terjadi pada setiap mahluk hidup dan dapat dimanifestasikan sebagai tambahan berat organ atau jaringan tubuh seperti otot, tulang dan lemak, urutan pertumbuhan jeringan tubuh dimulai dari jeringan saraf, kemudian tulang, otot dan terakhir lemak. Menurut (Dimension 2010) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi laju pertumbuhan hewan antara lain spesies, jenis kelamin, umur dan jumlah makanan yang dikonsumsi
Sapi lokal mempunyai kemampuan reproduktivitas lebih baik dibanding sapi persilangan. Menurut (Nining 2018) menyatakan bahwa ternak lokal lebih mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan kondisi manajemen pemeliharaan di Indonesia yang sebagian besar dipelihara di peternakan rakyat.

2.2       Pengukuran Dimensi serta Sistem Penilaian Tubuh Tenak

            Menurut (Zainudin, Ihsan, and Suyadi 2013) pengukuran ukuran tubuh ternak sapi selain dipergunakan untuk menduga bobot badan seekor ternak sapi , juga digunakan sebagai parameter teknis penentuan sapi bibit dan menentukan umur sapi tersebut.
            Berdasarkan ketentuan kontes dan pameran ternak nasional, yang termasuk dalam “statistik vital” pada ternak sapi meliputi ukuran tinggi gumba, panjang badan, lingkar dada, lebar dada, dalam dada, lebar punggung, lebar pinggul, panjang pinggul, panjang kepala, lebar kepala, berat badan, dan umur.
            Menurut (Anggraeni and Mariana 2016) menyatakan bahwa kuran “statistik vital” dari organ tertentu jika dikaitkan dengan umur akan menggambarkan keharmonisan perkembangan tubuh dan produktivitas (pertumbuhan). Karena itu, pertumbuhan organ-organ tertentu berkorelasi dengan berat badan.
            Pengukuran dimensi dimaksudkan pelaksanaan dengan mengukur dimensi tubuh luar ternak atau ukuran statistic meliputi :
*      Ukuran Tinggi :

A.    Tinggi Pundak, tinggi gumba ialah jarak tegak lurus dari titik tertinggi pundak sampai ketanah atau lantai, alat yang digunakan adalah tongkat ukur.
B.     Tinggi punggung ialah jarak tegak lurus dari taju duri ruas tulang punggung atau processus spinosus vertebrae thoracaleyang terakhir sampai ke tanah . Titik ini mudah didapat dengan menarik garis tegak lurus tepat diatas pangkal tulang rusuk terakhir.
C.     Tinggi pinggang  ialahjarak tegak lurus dari titik antara tulang lumbar vertebrae 3-4, tepat melalui legok lapar sampai ke tanah ( lantai ).
D.    Tinggi pinggul ialah jarak tegak lurus dari titik tertinggi pada os sacrum pertama sampai ke tanah.
E.     Tinggi kemudi, jarak tegak lurus dari os sacrum ( sacrale ), tepat melalui tengah- tengah tulang ilium sampai ke tanah.
F.      Tinggi pangkal ekor ialah jarak tegak lurus dari titik pangkal ekor, sampai ke tanah.
G.    Alat yang dipakai untuk mengukur tinggi bagian- bagian tubuh diatas adalah tongkat ukur.

*     Ukuran Panjang :

A.    Panjang kepala jarak dari puncak kepala sampai ujung moncong.
B.     Panjang badan ; diukur secara lurus dengan tongkat ukur dari siku ( humerus ) sampai benjolan tulang tapis ( tuber ischii ).
C.     Panjang menyilang badan, jarak yang diukur antara  tulang benjolan bahu sampai tulang duduk disisi lainnya. Diukur dengan memakai pita ukur.
D.    Panjang kemudi; panjang kelangkang; panjang pelvis, jarak antara tuber coxae dan tuber ischii pada sisi sama.
E.     Panjang telinga, jarak antara ujung telinga sampai pangkal telinga bagian dalam. Dapat diukur dengan penggaris atau pita ukur.
F.      Panjnag tanduk, diukur dengan pita ukur. Jarak antara ujung tanduk sampai kedasar tanduk.
G.    Selain yang telah disebutkan alat- alatnya, dapat juga digunakan tongkat ukur, jangka sorong atau caliper.

*      Ukuran Lebar :

A.    Lebar dada, jarak terbesar pada yang diukur tepat dibelakang antara kedua benjolan siku luar, yaitu tepat pada tempat mengukur lingkar dada.
B.     Lebar pinggang, jarak diukur antara taju horizontal yaitu pada tulang lumbale 3-4.
C.     Lebar pinggul, jarak antara tuber coxae pada sisi kiri dan kanan.Panjang kemudi; panjang kelangkang; panjang pelvis, jarak antara tuber coxae dan tuber ischii pada sisi sama.
D.    Lebar kemudi, jarak terlebar antara sisi luar kiri dan kanan tulnag pelbis atau os illium melalui os sacrum 3-4.
E.     Lebar pantat, lebar tulang tapis atau lebar tulang duduk, jarak antara kedua benjolan tuber ischii kiri dan kanan.
F.      Lebar kepala, jarak terbesar antara kedua lengkungan tulang mata sebelah atas luar kiri dan kanan.

*      Ukuran Dalam :
                        Dalam dada. Jarak titik tertinggi pundak ( gumba ) sampai tulang dada dan diukur melalui serta merta dibelakang siku.
*      Ukuran Lingkar :

A.    Lingkar perut . lingkaran yang diukur di daerah perut.yang memliki lingkaran besar, melalui serta merta di belakang tulang rusuk terakhir dan tegak lurus dengan sumbu tubuh.
B.     Lingkar perut . lingkaran yang diukur di daerah perut.yang memliki lingkaran besar, melalui serta merta di belakang tulang rusuk terakhir dan tegak lurus dengan sumbu tubuh.
C.     Lingkar flank. Lingkaran yang diukur di daerah flank, melalui tuber coxae serta merta depan ambing atau skrotum..
D.    Lingkar pantat, lingkar  round. Lingkaran yang diukur pada pantat, dari tulang patella kiri sampai tulang patella kanan, kearah belakang serta membentuk penampang sejajar dengan lantai.Lebar pantat, lebar tulang tapis atau lebar tulang duduk, jarak antara kedua benjolan tuber ischii kiri dan kanan.
E.     Lingkar tulang pipa. Lingkaran yang diukur ditengah- tengah tulang pipa, yaitu pada bagian yang terkecil dan terbulat.
F.      Lingkar skrotum. Lingkaran yang diukur pada bagian terbesar skrotum; terlebih dulu skrotum telah ditarik kearah bawah sehingga terdapat kedua testesnya.
G.    Lingkar tubuh.
H.    Lingkar mulut, lingkar moncong. Lingkaran yang diukur tepat pada akhir sudut bibir, ialah pada batas antara kepala dan moncong.
Uji performans merupakan salah satu metode uji pada ternak untuk mengetahui sejauh mana tingkat performans atau penampilan sapi untuk memperoleh penampilan terbaik yang kemudian diturunkan pada anaknya saat uji lanjutan ( uji Progeny). Menurut (Patmawati et al. 2013) menyatakan bahwa Metode pengujian yang dilaksanakan adalah memilih ternak bibit berdasarkan sifat kualitatif dan kuantitatif yang meliputi (1) pengukuran yaitu panjang badan,tinggi gumba, dan lingkar dada, (2) penimbangan yaitu berat badan, berat lahir, berat sapih (205 hari), berat setahun, dan berat 2 tahun, (3) pengamatan yaitu warna rambut, bentuk rangka, bentuk kepala, bentuk kaki, bentuk kuku, bentuk skrotum, dan kelainan yang lain seperti ekor panjut, cundang, dan injin.

*      Sistem Penilaian :
A. Cara Visual (Subyektif)
            Suksesnya sistem ini amat ditentukan oleh bakat dan seni para juri. Bakat disertai dengan pengalaman akan dapat menghasilkan nilai yang mendekati keadaan yang sebenarnya atau dengan kata lain akan terjadi penyimpangan yang amat kecil atau bahkan tidak ada. Menurut (Azzahra, Setiatin, and Samsudewa 2016) menyatakan bahwa bagian yang dinilai pada sistem ini antara lain : keadaan atau penampilan umum, bentuk tubuh, ciri-ciri khas ternak, kapasitas tubuh, keadaan alat-alat reproduksi, keadaan ambing serta sikap berjalan.
            Karakterisasi ukuran-ukuran tubuh dapat digunakan untuk mengukur jarak genetik, merupakan metode pengukuran yang murah dan sederhana. Menurut (N. Utomo et al. 2010) menyatakan bahwa peubah yang diukur adalah karakteristik fenotipik yang berkaitan dengan sifat kuantitatif. Sebanyak 8 sifat kuantitatif yang diukur, yaitu: lingkar dada (cm), dalam dada (cm), lebar dada (cm), tinggi pundak (cm), tinggi pinggul (cm), lebar pinggul (cm), panjang badan (cm), dan bobot badan (kg).
            B. Cara Pengukuran (Obyektif)
            Sistem ini didasarkan dengan pengukuran ststistik vital ialah ukuran-ukuran tubuh luar atau ukuran linier. Menurut (Anggraeni and Mariana 2016) menyatakan bahwa dimensi yang diukur antara lain : panjang lebar, tinggi dalam dan lingkaran misalnya panjang badan (cm), lebar dada (cm), tinggi gumba (cm), dalam dada (cm) dan lingkar dada (cm) dan bila perlu ditambah dengan berat badan (kg) dan umur (tahun).
            Bobot badan memegang peranan penting dalam pola pemeliharaan yang baik, selain untuk menentukan kebutuhan nutrisi, jumlah pemberian pakan, jumlah dosis obat, bobot badan juga dapat digunakan untuk menentukan nilai jual ternak tersebut. Menurut (Ramli et al. 2016) menyatakan bahwa ukuran-ukuran tubuh ternak dapat digunakan untuk menduga bobot badan. Salah satu metode praktis adalah dengan menggunakan lingkar dada. terdapat beberapa rumus penduga bobot badan ternak menggunakan lingkar dada yaitu Schoorl, Winter, dan Denmark. Rumus-rumus tersebut dapat digunakan untuk sapi, kambing, domba, babi dan kerbau.
            C. Kartu Nilai Skor (NS)
            Pengukuran pada sapi  menggunakan penilaian BCS dimana BCS untuk mengukur kondisi tubuh sapi. Hal ini sesuai dengan (Takdir, Haryono, and Ishak 2017) menyatakan bahwa untuk penilaian visual ini perlu dipersiapkan kartu untuk masing-masing ternak (sapi) yang akan dinilai, dimana dalam kartu telah dipersiapkan : jenis ternak, nomor ternak, nama-nama bagian tubuh, nilai maksimal, nilai bobot, nilai yang diperoleh dan nilai akhir.
      Ada tiga jenis kartu tergantung tujuannya antara lain :
1.  kartu untuk pejantan,
2.  kartu untuk induk dan
3. kartu untuk bakalan atau hasil penggemukan
            Indikator BCS sangat penting untuk mengevaluasi pengelolaan dan dapat digunakan sebagai alat untuk mengoptimasikan produksi, mengevaluasi kesehatan dan status nutrisi. Menurut (Sodiq and Budiono 2012) menyatakan bahwa BCS juga berkorelasi dengan efisiensi rebreeding untuk optimalisasi produksi, evaluasi kesehatan dan juga mengevaluasi status nutrisi. Kondisi BCS sapi berkisar dari 3 sampai 6 (skor maksimal 9) dengan modus 4 (sapi Peranakan Ongole dan Sumba Ongole) dan 5 (untuk sapi Persilangan Simental dan Charolois).



BAB III

KESIMPULAN


            Penilaian dan pengukuran merupakan hal yang sangat penting dan vital dalam pemilihan ternak, hal ini dikarenakan untuk memilih ternak dengan kualitas baik dan unggul perlu dilakukan penilaian dan pengukuran untuk menyeleksi ternak dari berbagai aspek yang bias diukur. Penilaian dan pengukuran meliputi cara visual, cara pengukuran dan kartu nilai skor. Kegiaatan handling juga perlu dilakukan agar ternak tetap tenang dan memudahkan proses penilaian dan pengukuran.
           




DAFTAR PUSTAKA


Anggraeni, Anneke, and Elmy Mariana. 2016. “Evaluasi Aspek Teknis Pemeliharaan Sapi Perah Menuju Good Dairy Farming Practices Pada Peternakan Sapi Perah Rakyat Pondok Ranggon.” Jurnal Agripet 16 (2): 90.
Azzahra, F.Y., E.T. Setiatin, and D. Samsudewa. 2016. “Evaluasi Motilitas Dan Persentase Hidup Semen Segar Sapi PO Kebumen Pejantan Muda.” Jurnal Sain Peternakan Indonesia 11 (2): 99–107. https://doi.org/10.31186/jspi.id.11.2.99-107.
Dimension, Circular Body. 2010. “Pertumbuhan Alometri Dimensi Panjang Dan Lingkar Tubuh Sapi Bali Jantan.” Jurnal Veteriner 11 (1): 46–51.
N. Utomo, Bambang, Ronny Rachman Noor, Cece Sumantri, Iman Supriatna, and Edie Gunardi. 2010. “Keragaman Morfometrik Sapi Katingan Di Kalimantan Tengah” 15 (3): 220–30.
Nining, dan H. 2018. “Reproduction Status and Potential of Sonok Cattle in Pamekasan District.” Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu 6 (3): 147–54.
Patmawati, Ni Wayan, Ni Nyoman Trinayani, Mahmud Siswanto, I Nengah Wandia, and I Ketut Puja. 2013. “Seleksi Awal Pejantan Sapi Bali Berbasis Uji Performans Eary Selection of Bali Cattle Stud Based on Performance Test” 1 (1): 29–33.
Ramli, Mauridatun, Tongku Nizwan Siregar, Cut Nila Thasmi, Dasrul, Sri Wahyuni, and Arman Sayuti. 2016. “Relation between Estrous Intensity and Estradiol Concentration on Local Cattle during Insemination.” Jurnal Medika Veterinaria 10 (1): 27–30.
Sodiq, Akhmad, and Machfudin Budiono. 2012. “Produktivitas Sapi Potong Pada Kelompok Tani Ternak Di Pedesaan.” Jurnal Agripet 12 (1): 28.
Takdir, M, P Haryono, and ABL Ishak. 2017. “Kinerja Reproduksi Sapi Betina Dan Performa Pedet Pada Usaha Budi Daya Sapi Potong Di Kabupaten Sigi,” 78–85. https://doi.org/10.14334/pros.semnas.tpv-2017-p.78-85.
Zainudin, M, M Nur Ihsan, and Suyadi. 2013. “Efisiensi Reproduksi Sapi Perah PFH Pada Berbagai Umur Di CV. Milkindo Berka Abadi Desa Tegalsari Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang.” Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan 24 (3): 32–37.


















LAMPIRAN


Link Cloud Storage (Google Drive)

https://drive.google.com/file/d/17wBSjYrrRYyesl0t9VdOjXZW9NEd9pU